Saat Bahagia (Cerpen)
~Mungkin aku terlanjur tak sanggup jauh dari dirimu~
***
BRUKK!
Sesuatu nampak menubruk tubuh Ify dengan keras,
membuat dirinya jatuh terduduk di lantai koridor sekolahnya.
“Aww, pasti sakit,” ringis Sivia yang ada
disebelahnya.
“Woy! Lo jalan pake kaki tapi mata juga dipake dong!
Lo liat pake jidad ya?!” gusar Ify sambil berusaha bangun dari posisi memalukan
ini.
Rio, orang yang menabrak Ify langsung terkesiap
ketika Ify menggertaknya dengan suara keras tersebut.
“Sorry, gue gak sengaja sumpah,” balasnya sambil
mencoba membantu Ify berdiri.
Ify menoleh
ke arah Rio membuat dirinya sedikit terkejut namun segera disembunyikannya.
Dirinya lalu membersihkan rok hitamnya yang kotor dan segera berlalu pergi dari
hadapan Rio.
“Weess gak salah apa seorang Mario Stevano Aditya di
bentak sama mantan ‘Fans’nya?” sindir Angel yang juga melihat kejadian tadi.
Rio tak bergeming dan hanya menatap tajam ke
punggung Ify yang semakin menjauh dan menghilang dibelokan tangga.
***
“Fy, Ify!”
Ify menoleh ketika mendengar namanya di panggil
dengan sangat keras di tengah keramaian seperti ini, sungguh dia malu!
“Apa?” jawabnya tak acuh ketika melihat bahwa Angel
yang memanggil namanya.
“Lo kemaren gak salah minum obat kan fy? Lo
bisa-bisanya bentak Rio di depan umum gitu? Waah keren top markotop!” Angel
berbicara dengan mata yang berbinar sambil mengancungkan dua ibu jarinya.
“Gak, ya bisalah orang sama-sama manusia kok, dan lo
pikir gak sakit apa jatuh duduk kayak gitu? Untung aja tulang gue gak patah,
kalau patah bisa berabe,”
“Tapi kayaknya Rio gak suka deh dia di permalukan lo
kayak kemarin,”
“Ya biarin, suka-suka dia ajalah, gue ngelakuinnya
aja suka-suka gue, apa peduli gue?”
“Gitu amat lo, slow ye,” balas Angel sambil menyikut
Ify yang hanya tersenyum tipis.
Hari ini sudah banyak sekali teman di sekolahnya
yang membicarakan tentang kejadian kemarin. Rumor kalau dulu Ify menyukai Rio
juga sudah cukup menyebar luas ke penjuru sekolah. Sedangkan seharian ini Ify
selalu di kelas, tidak ke kantin dan tidak ke perpusatakaan seperti yang biasa
ia lakukan.
Berbeda lagi dengan dua sahabatnya, Sivia dan Shilla
sibuk berkeliling untuk menjelaskan bahwa Ify sudah tidak menyukai Rio. Tidak
penting namun cukup berpengaruh.
“Vi, wc yok?” bisik Ify pada Sivia yang duduk
didepannya.
“Yok!” dengan semangat 45 Sivia langsung berlari
kecil ke meja guru untuk meminta izin.
Tak lama kemudian mereka berdua sudah berada di WC,
namun mereka sepertinya cukup harus mengantri sebentar. Kemudian munculah
sesuatu yang membuat Ify jengah seketika adalah saat Rio dan temannya juga
turun ke WC. Apalagi saat ini hanya tinggal dirinya sendiri yang sedang
menunggu Sivia di dalam.
“Lagi ngapain disini –rabun ?” Rio mengambil jeda
cukup panjang sebelum mengatakan ‘rabun’ dengan tatapan sinis.
“Cihss, lo emang bego atau pura-pura bego hm?” balas
Ify tak kalah sinis.
“Ngajak perang lo!”
“Gak, lo pikir ini jaman kolosal? Perang-perangan
kayak Belanda aje,”
KLEK!
Keributan kecil tadi terhenti ketika Sivia membuka
pintu kamar mandinya. Hal itu di manfaatkan Ify untuk segera pergi.
“Awas aja tu cewek, berani banget lawan gue,” ancam
Rio.
“Biarin aja
tar, toh dia cewek kan? Gak ada gunanya lo lawan dia, lo mau nonjok dia? Itu
justru ruginya ke lo, karna lo bakal di cap ‘pengecut’ yang beraninya ngelawan
cewek doang,” ujar Gabriel menasehatinya.
“Lo ngomong kayak rel kereta api ekonomi, yel!”
Rio dan Gabriel alis Iel lalu tidak jadi ke wc dan
kembali ke kelas mereka. Di jalan seribu ide licik bersarang di kepala Rio
membuatnya ingin segera mewujudkan ide ‘briliant’nya itu.
“Tamat
riwayat lo IFY ALYSSA!” batinnya lalu tersenyum sinis.
Iel yang masih berjalan di samping Rio bergidik
ngeri melihat sahabatnya itu tersenyum sendiri dengan tiba-tiba.
***
Dan memang benar, Dewi Fortuna sedang berpihak pada
Rio namun tidak untuk Ify. Karena dirinya sedari kemarin selalu saja sial. Hal
ini tentu saja membuatnya sangat kesal.
Kemarin dirinya harus kembali jatuh duduk karena
terpeleset di depan kelas IPS3. Dan diyakini Rio yang menyuruh seseorang
menuangkan sabun di sana. Tak habis disitu saja, saat Ify akan membersihkan
dirinya di WC ia palah terkunci di dalamnya. Ternyata kunci pintu tersebut
telah disabotese oleh Rio dan teman-temannya. Sialnya orang yang datang ke wc
siang itu cukup sepi sehingga menjadi mustahil ada yang mendengarkan teriakkannya.
Tapi untunglah Sivia masih punya rasa curiga yang justru menyelamatkannya.
Hari ini dirinya harus di hukum karena PRnya hilang.
Padahal Ify yakin dia sudah meletakkannya di tas.
“Masa hilang sih fy? Gak mungkin deh, pasti lo lupa
bawa,” ucap Shilla.
“Gak shil, tadi itu ada disini tapi sekarang udah
gak ada,” Ify yang terlihat frustasi pun menyerah dan menerima hukuman dari
guru IPAnya tersebut.
Membersihkan WC. Sebuah hukuman yang klise untuk
diberikan namun sangat berat untuk dilakukan. Oh yang benar saja, WC sekolahnya
ini bau sekali! Ify hampir pingsan rasanya.
“Rajin banget mbak? Kurang kerjaan ya?” tiba-tiba
saja suara yang sangat dikenalnya, suara yang menyebabkan ini semua terjadi
menyapanya dengan penuh kebahagiaan. Ah ini sih bukan menyapa.
“Emang, gue terlalu bebas buat ngelakuin ini itu
makanya gue ngelakuin ini,” ucap Ify mencoba membela dirinya.
Rio, orang itu, tak peduli dan langsung masuk ke
dalam wc.
“Sial.
Oke gue bakal hentikan semua ini dengan sebuah pertunjukkan menarik,”
batin Rio mulai licik kembali.
Saat kembali dari dalam, Rio sengaja menubruk Ify
hingga jatuh ke lantai yang basah dan dengan sengaja lagi tangan Rio menyenggol
ember besar di atas pinggiran bak mandi dan dengan sempurnanya air itu
membasahi seluruh tubuh Ify.
Ify mencoba berdiri dengan sekuat tenaganya dalam
diam. Ia kemudia menatap ke arah Rio yang sedang tersenyum puas karena berhasil
menjalankan rencananya.
“Lo tau waktu gue ngebentak lo itu karena elo salah.
Elo yang salah udah nabrak gue dan gue punya hak buat marah sama lo,” Ify menjeda
kalimatnya memastikan Rio sedang mendengarkannya. “Tapi yang lo lakuin ke gue
belakangan ini gak mendasar ke manapun.Lo gak punya alasan buat ngelakuin ini
semua. Apa lo mau bilang kalau lo gak mau dibuat malu di depan umum? Lo pikir
gue juga gak malu apa? Kemarin gue masih diem sama lo tapi sekarang gak lagi.
Lo! Gue benci sama lo!” tampak jelas air mata itu mengalir di pipinya namun
dirinya segera menghapusnya dan berlari menjauhi Rio yang masih mematung di
tempatnya.
Ify bersembunyi di dalam ruang perpustakaan yang
sepi. Dirinya tak tahan lagi dan menangis sejadi-jadinya disana. Baru kali ini,
perasaan bahkan bisa dibilang harga dirinya dipermainkan seperti ini.
“Apa salah gue sebenarnya?” lirihnya.
***
Seperti halnya gosip yang cepat menyebar, apa yang
menimpa Rio dan Ify beberapa hari yang lalu sudah menyebar luas ke seluruh
penjuru sekolah.
Ify kini menjadi lebih pendiam, dia tak banyak
keluar kelas, hanya saat upacara dan jam olahraga saja. Rio sendiri tak beda
jauh dari Ify, ia sudah tidak banyak menimbulkan kerusuhan dengan siswa
lainnya.
“Lo kenapa sih bro? Lo mikirin Ify?” tiba-tiba saja
Alvin duduk dihadapan Rio membuat lamunannya buyar.
“Minta maaf gih. Banyak banget yang ngomongin
kalian. Padahal kejadiannya udah seminggu yang lalu. Kayak berita gede di TV
yang dipanjang-panjangin terus. Capek kita dengernya,” lagi-lagi Iel menasehati
Getar.
“Bukan kayak berita di Tv el, tapi kayak omongan
lo,” sela Alvin.
Iel hanya nyengir sedangkan Rio tetap pada ekspresi
datar dan pandangan kosongnya.
Sebenarnya bukan itu masalah besarnya, dia tidak
akan peduli orang-orang akan berkata apa tentangnya saat ini. Yang di
pikirannya adalah air mata itu. Dirinya tidak akan menyangka bahwa air mata
yang biasanya menjijikan baginya itu kini menjadi mematikan untukknya.
Ya kini dirinya sadar telah melakukan suatu
kesalahan. Namun bagaimana ia menebusnya? Meminta maaf saja sungkan untuk di
lakukannya. Ify sudah terlanjur membenci dirinya. Tidak akan mudah merubah ini
semua kecuali kalau dirinya benar sungguh-sungguh.
“Mulai besok lo cari tau segala tentang Ify, apapun
itu!” perintah Rio sembari menatap kedua sahabatnya.
“Yakin lo?”
“Beri tahu kita apa alasan lo!”
Di tempat lain Ify sedang asyik menulis cerita di
buku binder kesayangannya. Sepertinya ia sudah tidak mulai peduli dengan
keadaannya saat ini.
“Fy, gimana bisa lo sama Rio musuhan sih? Padahal
dulu lo suka sama dia, lo selalu aja muji-muji dia, bahkan pas dia salah pun lo
masih aja nyari sela-sela kebenaran buat bela dia, tapi sekarang keadaannya
udah berbalik 180derajat,” ucap Sivia tak peduli Ify menanggapinya atau tidak.
“Ohya? Kalau bener gue pernah ngomong kayak gitu
berarti sekarang gue menarik semua ucapan positif gue ke dia, oke?”
“Fy, gue tau kok lo masih punya simpati sama dia.
Mungkin aja lo mau udahin ini semua. Lo gak perlu minta maaf sama dia karna
memang bukan lo yang salah tapi setidaknya lo datang ke dia dan bilang kalau lo
bakalan damai,”
“Gue minta damai sama dia? Itu sama aja gue minta
maaf dong Vi sama dia. Gak, gue gak mau. Lo aja tau kalau gue gak salah jadi
kenapa korban yang harus berbuat agar semuanya kembali seperti semula. Coba lo
pikir, yang mulai siapa dan siapa pula yang mestinya tanggung jawab,”
“Rio. Gue tau fy tapi apa salahnya sih lo yang
duluan. Gue ya sebagai sahabat lo itu ngerasa telinga gue udah panas denger
berbagai fitnah dari fans-fans alaynya dia, apalagi sebangsa adik kelas. Gue
gak mau nama lo tercoreng gara-gara ini, bahkan guru-gurupun udh tau masalah
ini. Jadi daripada makin rumit udahin aja deh ya,”
“Please deh Sivia ku yang tercinta, lo cuma tinggal
tutup telinga lo dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Setelah itu gue yakin
lo gak khawatir lagi sama gue,”
Sivia hanya bisa tersenyum tipis menanggapi Ify yang
sedang keras kepala ini. Akan percuma jika berbicara lebih banyak lagi
nantinya.
***
Iel dan Alvin terduduk lemas di depan sebuah
minimarket. Hari ini mereka berdua seakan menjadi seorang mata-mata. Mereka tidak
bisa menolak keinginan Rio kalau memang mereka berdua ingin punya masalah.
“Menurut lo Rio puas gak sama apa yang kita temukan
sekarang ini?” tanya Alvin sambil menyeruput minumannya.
“Gak yakin gue vin. Kita emang udah dapet semua hal
yang dia suka dan yang gak di suka sama Ify, kita juga tau apa
kebiasaan-kebiasaannya tapi gue rasa masih aja ada yang kurang,” jawab Iel.
“Iye omongan lo kurang panjang. Ah gakpapa deh yang
penting kita udah nyari, ya gak?”
Iel hanya mengangguk. Setelah itu mereka berdua
lantas pergi menemui Rio dan melaporkan apa yang telah mereka dapatkan.
“Oke bagus,” ucap Rio memuji kedua sahabatnya.
“Ya iyalah bagus, perjuangannya aja bagus,” balas
Alvin dengan nada meledek.
“Bagus gimana?”
“Buat dapet informasi itu kita harus selalu di usir
sama si orang tinggi di kelas mereka. Dan yang enggak enaknya kan Ify dikelas
terus, rasanya gimana lah gitu ngomongin orang yang ada di depan kita,” kini
giliran Iel yang bercerita.
“Ya bagus dong,”
“Iya BAGUS!” kesal Alvin.
Rio tertawa puas. Kini misi minta maafnya akan
segera terlaksanakan.
Misi Pertama :
“Ify
itu suka banget baca Novel, jadi gue rasa lo harus lakuin sesuatu yang
menyangkut baca-membaca,”
Rio memasuki ruang perpustakaan dengan hati-hati.
Menurut informasi yang di dapatnya Ify akan berada di perpustakaan pada jam
istirahat. Dan benar saja Rio dengan mudahnya menemukan Ify disana.
“Ehem, boleh bantu cariin buku tentang FISIKA gak?”
tanya Rio pada Ify yang sedang asyik membaca.
Ify menoleh dan terkejut melihat Rio ada di depannya
dengan senyuman canggung. Ify tak menjawab dan kembali melanjutkan bacaannya.
“Fy, yang kemarin gue nyesel ngelakuinnya, gue mau
min-“ kalimat Rio terhenti seketika saat Ify beranjak pergi dan
meninggalkannya.
Rio merasa Ify masih belum mau bertemu dengannya.
Oke, misi pertamanya Gagal!.
Misi Kedua :
“Kalau
lagi materi bebas dia suka main basket giliran sama temen-temennya,”
Saat bel istirahat berbunyi Rio langsung cepat-cepat
berlari ke halaman sekolah. Lagi-lagi dirinya melihat Ify yang asyik bermain
basket. Dengan modal bola basket nganggur di dekatnya, Rio mendrible bolanya
mendekati Ify.
“Gue tau gue yang salah, gue nyesel ngelakuin itu
semua ke elo. Gue minta maaf, Fy, gue minta maaf,” ucap Rio berbisik sambil
tetap mendrible bola basketnya disamping Ify.
Ify kembali diam, dihentakkannya bolanya sekali ke
tanah dengan keras dan shoot! Masuk! Setelah itu ia langsung menarik tangan
Sivia untuk pergi.
Rio menghela nafas beratnya, lagi lagi rencananya
gagal.
***
Berbagai rencana yang disiapkan Rio hanya berakhir
sia-sia. Ify selalu saja mendiamkannya dan akhirnya pergi. Dirinya tak akan
pernah menyerah, walaupun rasa heran selalu dilontarkan teman-temannya tentang
sikap bedanya kali ini namun Rio tak peduli. Yang ada di pikirannya hanya Ify,
Ify, dan Ify.
Ify sendiri sedang bingung tak karuan dengan sikap
Rio yang terus saja minta maaf padanya. Dirinya tak tega namun saat menatap Rio
rasa bencinya kembali muncul dan itulah yang membuatnya selalu diam menanggapi
Rio.
“Fy, kenapa lo gak maafin Rio aja sih? Gue kasian
liat dia yang sekarang. Kayaknya gak ada yang lebih berharga dari pada maaf
dari lo,” ucap Sivia sambil membantu Ify memberesi buku-buku di perpus.
“Gue juga bingung kenapa dia segitunya mau maaf dari
gue. Apa dia bener-bener nyesel gitu?”
“Dia nyesel fy, gue yakin. Maafin dia deh dan
setelah itu gue juga yakin dia gak bakal gangguin lo lagi,”
“Kalau dia tetep ganggu gue gimana?”
“Gue gak bakal ganggu lo lagi,” Ify dan Sivia
terkejut karena tiba-tiba saja Rio ada di belakang mereka.
“Gue ngaku gue salah, gue udah terlalu ngebesarin
masalah sama lo. Gue nyesel udah buat lo kayak gini,” Rio menjeda kalimatnya
dan tersenyum tipis. “Gue minta maaf sama lo, gue minta maaf atas semua
kekacauan yang udah gue buat. Gue janji gue gak bakal buat onar lagi sama lo
dan gue juga bakal selalu ngejagain lo. Gue janji Fy,” lanjutnya dengan menatap
tajam mata Ify.
Ify membalas tatapan itu, tanpa disadari bibirnya
juga membentuk selengkung senyuman tipis, “Buktiin janji lo,”
Sivia melihatnya dengan takjub, dirinya merasa
berada di dalam sebuah film romantis yang saling mengucap janji.
Sreet!
Lamumannya langsung buyar saat Ify menarik lengannya
pergi menjauh. Ingin dirinya mengumpati Ify barusan tapi niatnya tersebut
langsung diurungkannya karena tempat yang ramai.
Begitu sampai dikelasnya Rio langsung terduduk
dengan lemas. Pandangan matanya lagi-lagi kosong. Angel yang sedari tadi
memperhatikan gerak-gerik Rio langsung mendekatinya dan duduk disebelahnya.
“Lagi mikirin Ify ya?” tanyanya.
Rio menoleh, tersenyum, dan mulai bercerita tentang
semuanya. Semua hal yang membuatnya merasa payah seperti ini. Angel
mendengarkannya dengan seksama seakan seorang kakak pada adiknya.
“Kalau emang itu apa yang di mau Ify, lo harus
lakuin itu dengan sungguh-sungguh dan jangan buat Ify kecewa,” ucap Angel
memberi sarannya.
“Thanks ngel,”
“Ohya satu lagi, ini buat lo,” Angel menunjukkan
sebuah buku tebal yang rasanya itu adalah Scraphbook.
“Ini apaan ngel?”
“Ini kado ultah dari Ify buat gue, dulu gue bilang
kalau pengen tau rahasia besarnya, dan dia palah kasih ini ke gue dan setelah
gue pikir-pikir orang yang pantes dapet
ini ya elo,” jawab Angel.
Rio tersenyum mendengarnya. Matanya melihat
bagaimana kerapian scraphbook yang ada di tangannya saat ini. Sangat persis
dengan gaya Ify yang suka sesuatu yang klasik.
Malam ini Rio asyik membaca scaphbook yang
diberikan Angel padanya. Saat halaman pertama ia buka dirinya langsung
terperangah saat melihat tulisan dan foto dirinya disana. Begitu juga
lembar-lembar selanjutnya, sangat terasa bagaimana perasaan Ify untuknya dulu.
Di saat itulah Rio juga mengingat betapa kasarnya
dia pada Ify. Dulu dia sama sekali tidak suka kalau Ify menyukainya. Ia selalu
bersikap dingin ketika Ify ada dan ia juga sudah seakan bermusuhan dengan Ify.
“Apa gue gak sepeka itu?” tanyanya pada dirinya
sendiri.
Malam ini Rio benar-benar tidak bisa tidur.
Pikirannya melayang entah kemana. Hingga pukul 1.30 pagi barulah dirinya
tertidur karena kelelahan.
***
“Hai fy, selamat pagi,” dari arah belakang, Rio
mencoba menyamai langkahnya dengan Ify sembari menyapanya
“Hm, pagi,” balas Ify cuek.
“Tumben datengnya pagi fy?”
Ify memberhentikan langkahnya yang juga diikuti oleh
Rio dan menoleh padanya. “Harusnya pertanyaan itu buat lo,” ucapnya membuat Rio
cengo seketika.
“Jadi mulai sekarang lo bakal SKSD sama dia hm? Sok
kenal Sok Dekat! Hahaha,” Alvin yang entah dari mana datangnya berkomentar saat
Rio menceritakan kejadian tadi pagi pada Iel.
“Gue emang kenal sama kok, dan gue juga yaaa lumayan
dekat kok,” jawab Rio dengan kikuk.
“Dekat apanya? Lo aja belum di maafin sama dia udah
sok dekat segala,” balas Alvin lagi.
“Kalau misalnya Ify tetep cuek sama lo gimana tar?
Gue rasa ya Ify bukan cewek semudah itu deh buat di deketin,” kini giliran Iel
yang berkomentar.
“Tenang ajalah, walaupun dia emang lagi benci sama
gue tapi lo semua tau kan kalau dia dulu suka sama gue, jadi gue rasa dia bakal
gak cuek sama gue,” ujar Rio yakin.
Alvin dan Iel saling berpandangan kemudian
mengangguk mengerti walaupun sebenarnya mereka berdua kurang setuju. Tapi ya
sudahlah buat apa melawan Rio kan?
Bel istirahat sudah berbunyi sekitar 5 menit yang
lalu, dan Rio baru saja keluar dari kelasnya karena harus mencatat materi yang
baru saja di dapatnya. Jujur itu bukanlah dirinya tapi itu semua dia lakukan
agar citra buruknya hilang demi Ify.
“Hay Fy? Gimana belajarnya lancar?” Rio langsung
menuju kantin dan merebut tempat duduk di sebelah Ify.
“Hmm,” hanya sebuah deheman kecil yang Ify berikan
pada Rio.
“Bagus deh kalau gitu, em lo gak ke perpus?”
“Gak,”
“Ohya? Gue denger bakal ada buku baru yang dateng,
kok lo gak kesana?”
“Datengnya hari Sabtu sekalian ngerefresh buku
lama,”
“Oh gitu, gue boleh bantu?”
“Yakin lo? Bukannya kalau hari Sabtu lo biasanya
bolos ye?” tanya Shilla yang duduk di depan Rio.
Rio terhenyak dan menunjukkan senyuman konyolnya.
“Noh liat, si Rio nekat banget,” dari kejauhan tanpa
diketahui Alvin dan Iel mengawasi gerak-gerik Rio yang mulai aneh tersebut.
Seperti yang sudah di katakannya, hari ini Rio
benar-benar datang ke perpustakaan dan membantu Ify yang juga kebetulan siswa
yang mengurus perpustakaan untuk memberesi ruang baca ini.
Tak jarang banyak siswa bahkan guru yang heran saat
melihat Rio berada di perpustakaan dengan sibuk menata buku-buku tebal lama
yang diragukan akan dia baca. Ify sendiri tak banyak bicara seperti biasanya
dan hanya melakukan tugasanya.
Namun kadang tak jarang dirinya melirik Rio yang
nampaknya senang melakukan pendataan buku-buku di perpustakaan ini.
“Jangan dilirik terus neng, samperin wae atuh,”
ledek Sivia.
“Hush, apaan sih,” kilah Ify dan berlalu.
“Bu, ini stock buku yang terakhir,” seorang yang
mengantarkan buku tersebut meletakkan kardus yang lumayan besar bertuliskan
Ensiklopedia Bahasa ke atas tumpukan kardus lainnya.
“Oke mas makasih ya. Ify, tolong kamu data dulu
stock yang datang sebelum mendata bukunya,” perintah Bu Rosa.
“Baik bu,” jawab Ify kemudian berjalan ke tumpukan
kardus tersebut.
Tanpa di sadari tumpukkan kardus yang sudah terlalu
tinggi tersebut goyah dari ke seimbangannya. Ify yang sedang berjongkok di
bawahnya tersebut sangat tidak acuh sampai sebuah suara yang menyadarkannya..
“Ify awas!!!” tepat saat itu sebuah tangan kokoh
menghadang kardus itu agar tidak jatuh.
“Woaah syukurlah,” Rio menghela nafas lega dan
tersenyum pada Ify yang sudah berdiri di sampingnya.
“Kayaknya tadi gue bisa lari deh buat selametin diri
sendiri, karena gue bukan kayak yang di film-film, bahaya tapi palah jadi
patung,” ucap Ify. “Tapi makasih untuk niat baiknya,”
“Em sama-sama,” balas Rio sedikit kesal namun
dipaksanya untuk tersenyum.
“Yah gagal deh liat drama romantis live di depan
mata,” gerutu Shilla diiringi tawa besar Sivia.
“Lo
Cuma tinggal bersabar untuk jangka waktu yang lebih lama kok yo, sabar,”
batinnya berbicara kembali.
***
Sebulan, ya hari ini tepat sebulan Ify merubah sikapnya
demi Ify, perempuan yang nampaknya sudah cukup merubah segala kebiasaan
buruknya menjadi lebih baik.
Hari ini pula Rio dibuat senang karena sepertinya Ify
sudah tidak mulai cuek lagi padanya. Pagi ini Ify membalas sapaannya,
senyumannya dan menjawab pertanyaannya beda dari biasanya. Hal itu membuat Rio
sangat senang.
“Seneng banget lo bro ada apa?” tanya Alvin saat
baru datang dan melihat sahabatnya yang aura mukanya cerah sekali hari ini.
“Ify udah gak
cuek lagi sama gue, hebat kan?”
“Hebat apanya?” tanya Iel.
“Ya hebat dong, pokoknya hebat. Mulai sekarang gue
gak perlu jadi lo lagi biar dia jawab pertanyaan gue,” balas Rio sambil
menunjuk Iel. Ya memang selama ini Rio harus ngomong panjang lebar agar Ify
juga mau mengubah jawabannya selain “Ya” “Mungkin” dan “Tidak”.
“Cissssh, jangan-jangan lo suka sama dia, kena karma
kan lo,” ledek Alvin
DEGH!
Jantung Rio tiba-tiba berdetak lebih cepat dari
biasanya dan hawa di sekitarnya terasa lebih panas dari biasanya.
“Ap.. apaan lo, huh sotoy,” balas Rio dengan
terbata-bata.
“Ciiieee temen gue jatuh cinta woy! Woy semuanya Rio
suka sama Ifpphhmmmmhhh,” Rio dengan segera menyumpal mulut ember Alvin dengan
segumpal kertas.
“Sia-sia lo,” ucap Iel, Rio heran lalu menoleh
keseluruh kelas yang nampaknya sudah tau bahwa dirinya menyukai Ify.
Lagi-lagi Rio menjadi begadang semalaman untuk
memikirkan ini semua.
“Karma? Gue kena Karma? Pasti ini hukuman buat gue
karena dulu udah nyianyiain Ify, tapi gue harus gimana dong!!!!” teriak Rio
frustasi di kamarnya.
Dirinya memandangi pigora foto Ify di meja
belajarnya yang dia curi diam-diam saat mampir ke rumah Ify 1 minggu yang lalu.
“Fy, jawab gue, gue harus ngapain? Gue suka sama
lo!”
***
Hari ini nampaknya beda dengan hari-hari biasanya,
karena baru pertama kali ini Rio memberanikan diri untuk menjemput Ify di
rumahnya.
Tok! Tok! Tok!
Klek!
“Rio?” kaget Ify saat melihat Rio sedang berdiri di
depannya.
“Hai fy, mau bareng gue gak?” sapa Rio agak kaku.
“Kemana?”
“Ke sekolah dong kemana lagi sih cantik?” balas Rio
dengan senyum menggoda.
“Ish apaan sih! Yaya gue ikut tunggu bentar,” Ify
kembali masuk ke dalam mengambil tas dan setelah itu langsung menghampiri Rio
yang sudah bertengger manis di motornya.
“Pipinya merah kenapa?” goda Rio saat mereka sudah
siap pergi.
“Emangnya merah? Gak deh, udah cepetan jalan, entar
telat!” omel Ify.
“Siap neng!”
Selama perjalanan ke sekolah Ify terus saja
memikirkan perasaannya. Entah kenapa dia merasa ada yang tidak beres dengan
perasaannya ini. Sedari tadi jantungnya terus bedegup kencang bahkan sebenarnya
ia mengakui bahwa pipinya tadi sempat merah merona gara-gara tingkah Rio.
“Rio?
Masa iya gue suka lagi sama dia? Hiiih jangan sampe deh!” batin
Ify.
Dan seperti yang sudah Ify duga di sekolah banyak
sekali anak-anak yang membicarakan tentang dirinya yang berangkat bersama Rio
tadi pagi. Bahkan Sivia dan Shilla pun mengejek dirinya sejak tadi hingga
istirahat makan siang ini.
“Dulu bilangnya gue benci elo sekarang nempel entar
bilang gue suka elo deh, hahahahaha,” canda Shilla.
“Tau tuh, eh atau jangan-jangan lo sebenarnya masih
suka lagi sama Rio?” selidik Sivia.
“Woy enggak lah yeeee ngomong seenak makanan lo
aje!” kilah Ify.
“Ya siapa tahu kan fy? Kan yang namanya sayang susah
juga ngilanginnya,”
“Gak! Issh apaan sih kalian jadi rempong gini,”
kesal Ify.
Sivia dan Shilla hanya bisa tertawa melihat ekspresi
sahabat mereka satu ini.
Sedangkan di tempat lain Rio sedang sibuk mencari
sebuah buku di perpustakaan. Bukan tumben dia berada di perpus saat jam
istirahat namun tumben dia disini untuk mencari sebuah buku.
“Nah ini dia ketemu!” serunya ketika menemukan
sebuah buku dengan judul ‘Tanda-Tanda Jatuh Cinta’. “Gila ada juga buku kayak
gini di perpus hahaha,” kekehnya.
Lembar demi lembar dibaliknya, halaman demi halaman
di bacanya dan kalimat dengan kalimat di resapinya. Makna jatuh cinta, arti
jatuh cinta, semua itu kini larut dalam pikiran Rio. Sesekali ia mencocokkan
apa yang di jelaskan di buku dengan apa yang di rasakannya.
“Ck, kalau di sini dominannya gue naksir nih, tapi
gimana ya?” ucap Rio pada dirinya sendiri.
Setelah berlama-lama di perpustakaan Rio harus puas
membaca dan kembali kekelas karena bel masuk sudah berbunyi 4 menit yang lalu.
Alvin dan Iel yang melihat gerak-gerik aneh dari Rio pun segera menghampiri
sahabat mereka itu.
“Lo kenapa yo? Sakit?” tanya Alvin.
“Gak. Eh gue tadi ke perpus baca buku cinta cinta
gitu, terus ada kuis gitulah terus gue dibilang naksir masa,” cerita Rio.
“Hahahaha, lo naksir sama Ify beneran gitu jadinya?”
“Bukan. Itu baru menurut buku itu,”
“Dan menurut lo...,” Alvin menggantungkan kalimatnya
menunggu lanjutan kalimat dari Rio.
“Mungkin,” balas Rio singkat.
“Nah, udah jelas lo suka sama Ify. Dan bener kata
Alvin lo kena karmanya Ify. Jadi, jadi kapan lo mau nembak dia?” kini giliran
Gabriel yang bertanya.
“Nembak? Wiiih selow dong bro, gue masih belum siap
bilang. Siapa tau dia juga udah gak suka sama gue kan siapaaaaa juga yang tau,”
balas Rio lesu.
“Yah, yah, yah, gagal PD deh lo. Gentle dong bro,
suka gak suka, tabraaak!” ucap Alvin memberikan semangat di susul oleh acungan
jempol dari Gabriel.
“Tabrak aja nih?” tanya Rio mencari keyakinan dari
kedua sahabatnya. Alvin dan Gabriel lalu mengangguk mantap.
Sore ini Ify sudah siap cantik di depan rumahnya.
Dia mendapat kabar kalau Alvin mengadakan party kecil-kecilan di tempat Alvin.
Awalnya Ify tidak mau hadir tapi saat tau Shilla dan Sivia juga di undang
akhirnya Ify pun akhirnya ikut. Sayangnya ia harus bermasalah dengan Rio yang
ngotot menjemputnya sore ini.
Tin Tin!
“Lama banget sih jemputnya,” ucap Ify sambil berlari
menghampiri Rio.
“Sorry, sorry tadi macet soalnya,” balas Rio.
Ify hanya meng’oh’kan saja perkataan Rio. Perjalanan
ke rumah Alvin sangat sepi, tidak ada pembicaraan yang terjadi di antara Rio
dan Ify. Sampai Ify sadar bahwa ini bukanlah jalan ke arah rumah Alvin.
“Yo! Yo, lo mau bawa gue kemana hah?” tanya Ify
dengan cemas.
“Ke party Alvin,”
“Tapi ini bukan jalan ke rumah dia yo,”
“Emang siapa yang bilang partinya dirumah dia?”
Ify terdiam. Memang sebenarnya tidak ada yang
memberi tahu bahwa partynya dilaksanakan di rumah Alvin, ia hanya beramsumsi
sendiri.
Sebuah bukit kecil dengan hamparan bunga dandelion
yang di ujungnya kita bisa melihat keindahan ibu kota Jakarta menawan pandangan
Ify begitu tiba disana. Satu dandelion dipetiknya dan ditiupnya hingga terbang
dengan indah.
“Hebat banget ya Alvin bisa nemuin tempat kayak
gini,” ucap Ify takjub.
“Bukan
Alvin fy tapi gue,” batin Rio. “Iya emang,”
“Tapi kok baru kita berdua sih yang dateng? Yang
lain mana?”
“Gue
suruh sembunyi,” “Telat kali, jalanan tadi kan lumayan
macet,”
“Oh mungkin juga sih,”
“Bagus gak fy pemandangannya?” tanya Rio sambil
berdiri di samping Ify.
“Bagus yo,”
“Lo suka?” Ify mengangguk. “Em, lo lagi suka sama
siapa?”
Ify menoleh, “Kenapa lo nanyain itu?”
“Eh, enggak papa nanya doang kok,” jawab Rio sambil
menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Fy, main jujur-jujuran yok,”
“Jujur-jujuran? Kayak nguak rahasia gitu maksudnya?”
“Iya, gue nanya duluan ya?” Ify kembali mengangguk.
“Lo suka gak sama gue? Jujur fy,”
Ify kaget mendengar pertanyaan Rio, di tatapnya Rio
dengan heran. “Maksud lo apa sih yo?”
“Maksud gue, gue suka sama lo. Jujur gue suka sama
lo fy udah lama mungkin namun gue baru berani ngomong sekarang,” jawab Rio
penuh penekanan.
Ify terdiam membisu. Pikirannya tiba-tiba saja
terasa kosong hingga beberapa saat.
“Lo ngapain sih yo? Dulu lo benci sama gue terus lo
deketin gue dan sekarang lo bilang lo suka sama gue? Lo sakit ya?”
“Enggak fy. Gue ngomong ini berdasarkan perasaan gue
sekarang fy,”
“Bercanda lo yo gak lucu banget,”
“Gue lagi gak bercanda fy,” ucap Rio sambil berusaha
memegang tangan Ify.
Ify segera menepisnya. “Udahlah yo gue mau pulang,” Ify
berbalik namun baru beberapa langkah dirinya dibuat terpaku kebali.
Hamparan dandelion di depannya kini penuh dengan
balon-balon warna merah jambu dan sebuah balon huruf bertuliskan “GUE SUKA LO,
ALYSSA” lalu tiba-tiba saja lampu-lampu kecil disekitarnya menyala dan lampion
mini beterbangan di tengah langit mentari senja.
“Lo yakin mau pulang?” ucap Rio membungkam keadaaan.
Ify menoleh ke arah Rio dengan tatapan yang sulit di
artikan. Rio kemudian berlutut di hadapan Ify dan mengeluarkan sebuket dandelion.
“Mungkin gue bukan orang yang romantis, dan mungkin
dengan gue berlutut ini terasa mainstream buat lo. Tapi perasaan gue ke lo itu
gak biasa fy, semuanya terasa berubah setiap lo ada di deket gue. Gue emang
baru nyadarin itu tapi gue gak mau gue terlambat,” Rio menjeda sejenak
kalimatnya, “Lo mau jadi pacar gue?” tembak Rio.
Ify bingung bukan main. Namun perlahan ia menatap
mata Rio mencari sebuah kejujuran dan ketulusan disana.
“Yo...,”
“Please fy kasih gue satu kesempatan,”
Ify langsung mengangguk.
“Yang bener fy?”
“Hm,” balas Ify.
Rio langsung berdiri dan memeluk Ify. “Makasih fy,”
“Apaan sih gak romantis banget,” bisik Ify sambil
merebut bucket dandelion dari tangan Rio dan berlari ke arah balon-balon tadi.
“SURPRISEEEE!!!” lagi-lagi Ify dibuat kaget untuk
kesekian kalinya.
Sivia, Shilla, Alvin dan Gabriek serta tak lupa juga
Angel muncul didepan Ify. Muka Ify kembali terlihat kosong dan membuat mereka
semua tertawa. Rio dari belakang juga menghampiri mereka sambil tertawa.
“Jadi kalian semua udah ngerencanain ini?” tanya
Ify.
“Iyaaa,” balas mereka semua kompak.
“Ih jahat,” kesal Ify sambil memasang muka cemberut.
Rio yang gemaspun mengacak rambut Ify.
***
Setiap orang akan merasakan apa itu yang namanya sakit
hati. Bertepuk sebelah tangan, ditinggalkan atau yang lainnya. Namun ada
balasan sebuah kebahagian dibalik itu semua.
Sama sepertinya halnya Ify yang selalu percaya akan
karma. Dan Rio yang terkena karma tersebut, mungkin dulu Ify tidak pernah
membayangkan ini semua namun sekarang dirinya tidak ingin memikirkan itu.
Ify dan Rio kini sudah mengutarakan perasaaan mereka
masing-masing. Sungguh senja yang indah bagi mereka semua yang ada di sana.
Dengan beberapa lampion yang sengaja di sisakan mereka menulis harapan maupun
seonggok kalimat disana.
‘Sudah Bahagia dan Jangan lupa Bahagia’ itulah yang
ditulis Ify dan Rio yang memang sedang bahagia.
-SELESAI-

Komentar
Posting Komentar