Keberadaan Seperti Angin [Cerpen]
Keberadaan
Seperti Angin
Menyukaimu, apakah tak
apa?
***
Dibawah teriknya sinar
matahari pagi, aku berdiri dideretan teman sekelasku yang sedang berolahraga hari
ini. Setelah sejenak mengdengarkan intruksi dari guru olahraga, kami semua
akhirnya dibiarkan berolahraga bebas.
“Dis, main basket yuk,”
ajak Rina saat aku asyik ngadem di
bawah pohon.
“Hah? Eh ayuuuk,” aku
pun segera bangkit dan menyusul Rina bermain basket di lapangan.
Mungkin memang hanya
kami berdua yang bermain saat ini namun aku tebak pasti gerombolan Dinar cs.
akan datang dan merebut bola kami.
Duk!
Huh! Benarkan kataku?
Dilanda kesal aku segera berlari mengejar Dinar yang kemudian mengoper bolanya
ke arah Gio. Tapi, hap! Aku dapat! Rina segera mengusir mereka dan kami berdua
kembali bermain dengan tenang.
Aku yang mendrible bola
dan dengan gesit menghindar dari Rina yang berusaha merubah posisi.
“Woi dis, ada Kelvin!” aku
diam tiba-tiba, bola basket menggelinding entah kemana, segera ku lihat arah
yang ditunjuk oleh Rina.
Degh!
Orang itu. Orang yang
bagiku adalah cinta pandang pertama. Pertama kali ku melihatnya saat acara
penerimaan siswa baru. Baru itu pula aku merasakan debaran yang tidak biasa.
“Masuk! Yes!” lamunanku
mendadak buyar karena teriakan Rina.
Trick liciknya
membuatku kalah satu skor darinya. Tapi tak apalah yang penting aku bisa
melihat “dia”.
Bel istirahat berbunyi
empat kali, aku dan Rina langsung menuju ke kantin karena tidak kuat menahan
rasa lapar di perut masing-masing.
Lagi. Aku bertemu
dengannya lagi. Entah harus senang atau apa yang pasti aku tersenyum.
“Weeh, ada Kelvin lagi
dis, jangan-jangan jodoh kali ya?” bisik Rina.
“Heh ngaco lo,”
“Habisnya tiap hari
kayaknya lo ketemu sama dia terus gitu,”
“Ye kan kita satu
sekolah masa gak saling ketemu,”
“Oh iya juga sih ya,”
Kelvin. Orang pertama
yang memikat pandangan bahkan hatiku. Aku yang menyukainya sejak kelas sepuluh
sampai sekarang. Tapi kalian tau bagian yang menyedihkan dari cerita ini?
Hahaha, dia tidak menyukaiku. Sama sekali tidak! Kenapa? Bagaimana aku tau? Aku
ditolak olehnya? Ohooo, bukan. Tapi justru karena dia menyukai teman sekelasku,
Hyuna.
Aku hanya bisa tinggal
diam, tidak berani berbuat apa-apa. Ah sekarang memandangnya dari jauh saja aku
sudah senang kok (bohong).
“Woi dis! Adis!”
“Eh apa?”
“Ngelamun mulu lo ah,
buruan ke kelas udah bel, ganti baju aja belum,”
“Ohiya, kuy kuy lets
go!”
***
Luka lagi. Hati ini
membara lagi, rasanya aku ingin lari tapi tidak bisa. Pemandangan tadi tidak
bisa aku hindari. Pagi tadi di depan kelas dengan riangnya Kelvin memuji-muji
kecantikan Hyuna. Ah bagi orang lain itu mungkin biasa saja, tapi bagiku beda rasanya.
Hyuna memanglah
primadona sekolah yang tubuhnya bak supermodel Indonesia. Wajahnya yang lucu
dengan mata ‘kucing’ imutnya itu membuatnya tampak seakan-akan sempurna.
Nyaliku menciut seketika, dibandingkan dengan aku yang seperti anak kecil
dengan kucir kuda dan pipi bakpao kukus dan tubuh yang ah sudahlah... Hyuna?
Aku mungkin hanya seonggok cacing untuk penampilan.
“Dis, ngelamunin apa
lagi yawlaaaaaa?” Rina berteriak frustasi di sebelahku.
“Hehehe, sorry sorry
yee,”
“Lo pasti lagi mikirin
Kelvin kan?”
“Hah!? Gak kok na,”
“Dis, jodoh itu gak
kemana, mau lo suka selama atau sebentar kalau yang namanya jodoh juga pasti
ketemu, tapi kalau gak ya udahlah yaa,”
“Hahahaa, apaan sih lo
na? Kok jadi mellow gitu?”
“Yang duluan mellow
siapa coba?”
“Ehm... Gue sih,”
“Nah tuh, udahlah gak
usah galau,”
Aku mengangguk, ucapan
Rina tadi ada benarnya juga. Pelajaran bahasa Indonesia menyambut kami setelah
bel selesai istirahat pertama berbunyi. Ulangan harian bergantian hari ini
membuat murid perempuan dipindahkan ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan
murid laki-laki tetap didalam kelas mengerjakan soal ulangan.
“Na, lo udah nemu
novelnya?” tanyaku pada Rina saat melihat buku ditangan Rina.
“Udah nih, gue mau cari
yang lebih tipis tapi gak ada jadi kepaksa ambil ini deh,”
“Yeelah segitu aje udah
lumayan tipis na,”
Aku tertawa kecil lalu
melangkah menuju rak buku Karangan Fiksi. Tanganku mulai menyapu deretan novel
bahkan buku dongeng di sana. Namun itu terhenti sebentar setelah aku
samar-samar mendengar sebuah suara.
“Lo
sebenarnya suka gak sih sama Kelvin?”
“Iya
nih, Kelvin kan gencar banget buat deketin lo na,”
“Gini
ya, gue sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama Kelvin. Dia ganteng sih, anak
basket lagi, apa sih yang kurang kan? Tapi tetep aja gue gak ada rasa sama
dia,”
“Lah
kenapa? Kalau dia nembak lo iyain aja deh, setidaknya dia jadi pacar lo na,”
“Eh
ogah ya gue, pokoknya gue gak mau sama dia. Rama lebih baik,”
“Aelah
palah ngarepin Rama lagi lo,”
Itu Hyuna dan dua
dayang-dayangnya alias sahabat yang lebih mirip dayang seperti di drama
kerajaan Korea. Aku mendengarnya dengan perasaan sedikit senang dan takut.
Senang kalau kenyataan bahwa Hyuna tidak menyukai Kelvin tapi juga takut kalau
nanti Kelvin tau dan bakalan sakit hati.
Aku terduduk dengan
perasaan masih bertanya-tanya di ruang baca perpustakaan. Kumulai membukan
lembaran novel yang kubawa untuk mengerjakan tugas dengan pikiran yang masih
tertuju pada Kelvin.
***
Ddrrrttt drrttt
drrrrtt.
Hpku bergetar didelam
saku celanaku, dengan cepat aku bangun dari posisi rebahanku.
Kelvin Saptyan
Aku hampir saja
menjatuhkan hpku dari tanganku. Hatiku berdetak lebih cepat dari biasanya.
Perlahan ku buka pesannya dan mulai membaca, dengan perlahan juga.
Lo
teman sekelasnya Hyuna kan?
Aku tahu mau kemana
arah chat ini. Kecewa rasanya tapi tak apalah, segera saja aku membalasnya
dengan cepat.
Menanyakan segala
sesuatu tentang Hyuna, apa yang disukainya, apa yang dibencinya, apa saja
kebiasaannya di kelas, siapa yang sedang dekat dengannya dan terakhir apakah
dia juga menyukai Kelvin. Semua pertanyaan itu aku jawab dengan jujur kecuali
yang terakhir.
Iya
dia suka sama lo.
“Gak vin, itu bukan
perasaan Hyuna, itu perasaan gue,” batinku berbicara.
Malam ini aku dibuat
tidak bisa tidur oleh Kelvin. Ah Kelvin, kenapa harus lo ya?
Pagi telah menggantikan
tugas sang malam. Pagi ini pula aku sudah berlari menyusuri jalan gang rumahku.
Kalau telat sedikit bisa ketinggalan bus dan telat kesekolah. Untung saja aku tidak
begitu hari ini.
“Rin, Rinaaaa!” aku
melambaikan tanganku ke arah Rina yang hendak naik ke tangga sekolah.
“Weeeess, tumben banget
mbak mau manggil saya,” sindir Rina saat sudah berjalan berdua di koridor
lantai satu sekolah tercinta ini.
“Gak papa, manggil aja,
gak boleh?”
“Yeee bolehlah. Btw kok
muka lo kayak seneng gitu ya?”
“Kok anda kepo ya?”
“Aiiissh, awas lo
yeee!”
Aku berlari menghindar
dari kejaran amukan Rina. Menaiki tangga lantai dua dan akhirnya sampai di
lantai tiga dimana para senior SMA bermukim.
“Oke oke, stop na, gue
bakal cerita sesuatu sama lo,”
“Bohong!”
“Eh beneran ini,”
“Huft, iya deh apaan?”
Rina mulai mendekat
padaku.
“Nanti aja deh ya,”
“Lo! Bener-bener ya,”
Aku cekikikan sendiri
sembari memasuki kelasku sedangkan Rina mengikuti di belakang dengan melafalkan
sumpah serapah yang panjangnya kayak gerbong kereta.
“Hah yang bener Kelvin
chat lo?”
“Husst, jangan
keras-keras na,”
“Hehehe iyee maaf. Tapi
apa lo gak papa dia nanyain cewek lain ke elo?”
“Gak papalah, emang gue
siapanya dia mau ngelarang biar gak usah omongin cewek lain?”
“Iya juga sih ya, em,
kantin aja yuk,”
Rina menggandengan
tanganku dengan riang menuju kantin. Aku tersenyum saja dibuatnya. Saat
berpaspasan di belokan tangga ada Kelvin disana, aku tersenyum padanya. Tapi
Kelvin hanya memandangku sekilas dengan tatapan dingin nan tajam cirikhasnya.
Raut wajahku seketika
murung, memikirkan Kelvin (lagi). Bagaimana bisa yang semalam rasanya dekat
tapi saat tadi seperti orang yang tidak saling kenal?
“Hayoooo ngelamun lagi
lo,” ucap Rina yang kemudian duduk didepanku dengan dua gelas es capuchino.
“Siapa yang ngelamun
yeee,”
“Oh gue kira ngelamunin
pujaan hati,”
“Issh apaan sih lo,”
“Eh ya dis, gue baru
sadar, kalau misalnya Kelvin sering chat buat nanya-nanyain Hyuna lo bisa aja serempet dia,”
“Hah serempet? Kalau
dia luka gimana?”
“Yah pe’ak! Serempet
maksudnya ambil kesempatan. Lo bisa sok-sok kasih perhatian gitu, nanyain dia
lagi apa atau gimana gitu,”
“Iya juga ya,”
“Iyalah, dan kalau
nantinya Kelvin lebih nyaman sama lo bukannya lebih bagus?”
“Iya sih tapi Kelvin
kan sukanya sama Hyuna bukan sama gue. Gue yang suka sama dia dari kelas satu
aja dianggurin mulu, gak dianggap,”
“Nah iya makanyaaaa
Adisty ku yang cantik, lo harus manfaatin kesempatan ini dengan
sebaik-baiknya,”
“Harus banget gitu
gue?”
“Ya dong, harus!”
Kuputar kedua bola
mataku dan mendesah berat.
TengTengTeng!!! Bel
masuk berbunyi tiga kali, kami berdua pun akhirnya memutuskan kembali ke kelas
untuk memulai pelajaran hari ini.
Sampainya di rumah aku
segera melaksanakan rencana itu. Awalnya aku hanya menanyakan kelanjutan
hubungan Kelvin dan Hyuna hingga lama-lama aku kecanduan dan ingin selalu
memperpanjang obrolan kami.
Kalau
seperti ini, apakah tak apa?
Besoknya sama seperti
itu, tapi rasa ini aneh. Kelvin seakaan tidak mengenalku. Dia selalu
mengabaikan panggilanku, tatapanku dan senyumanku walaupun dia menyadarinya. Tapi
saat sudah dalam obrolan kami berdua nampak seperti dua orang yang sedang
menjalankan misi. Terus seperti itu sampai suatu hari dimana semua ini bakalan
berakhir.
Gue
rasa udah cukup buat selama ini dis
Maksud
lo vin?
Gue
mau nembak Hyuna besok
....
Aku tidak bisa membalas
apapun untuk sementara, mataku, otakku hingga perasaanku masih mencerna kalimat
yang barusan ku baca.
Oh,
bagus dong kalau gitu
Iya,
thnks udah bantuin gue
Sama-sama
Pupus sudah semuanya.
Aku memang bukan apa-apa buat Kelvin. Mungkin saat ini lebih baik dari dulu
karena masih mungkin kalau Kelvin menganggap aku teman. Itu saja cukup untuk
saat ini.
“Sabar ya dis, maaf
juga karena saran gue palah buat lo tambah sakit hati. Masih banyak cowok
selain dia kok dis, lupain aja ya?”
Nasehat Rina padaku
saat aku menceritakan semuanya padanya siang itu di sudut perpustakaan.
“Gak semudah itu na, lo
pikir sekali gue niat langsung lupa? Gak naaa,”
“Iya dis gue tau, tau
banget. Tapi mau gimana lagi? Mau lakuin apa lagi?”
“Gak tau, gue gak tau
sumpaaah na gue harus gimana?”
Aku menelungkupkan
wajahku dengan frustasi. Rina menatapku sendu, ikut sedih. Melupakan?
Menghapus? Ah tidak semudah itu benar.
***
Kulihat dua dayang
pribadi Hyuna sudah dengan semangatnya memaksa Hyuna agar ikut ke rooftop
sekolah. Hyuna tak bergeming dan palah menatap mereka dengan acuh. Namun dengan
pemaksaan yang lebih sedikit keras akhirnya Hyuna mau diajak kesana.
Tanpa sadar langkah
kakiku mengikuti ketiganya. Tap! Tap! Tap! Langkahku sengaja kubuat pelan
karena tidak mau ketahuan kalau aku diam-diam mengikuti.
Sudah sampai, Hyuna
berdiri diam didepan Kelvin yang tampak gugup. Aku yang melihat dari samping
dapat menemukan sebuah bucket bunga yang tersembunyi dibalik punggung Kelvin.
Sedikit percakapan
pengantar dari mereka tidak aku dengarkan, hingga masalah intinya.
“Lo mau jadi pacar
gue?” ucap Kelvin dengan penuh harap.
“Sorry vin, gue
bener-bener minta maaf, tapi selama ini gue gak ada perasaaan apa-apa sama lo,”
jawab Hyuna dengan ekspresi kurang mengenakkan.
“Maksud lo?”
“Gue punya orang lain
yang gue suka,”
Buuum! Bucket bunga
tersebut jatuh dari tangan Kelvin.
Aku tidak sanggup
melihat kejadian selanjutnya dan memilih menghilang dari persembunyian. Wajah
tadi, entah kenapa rasanya sakit sekali aku melihatnya. Ingin rasanya aku
mengatakan bahwa ‘masih ada aku disini,
tidak apa-apa’ tapi apalah dayaku ini. Hati ini semakin berkecamuk tidak
jelas, aku rasa ini salahku, salahku tidak mengatakan yang sejujurnya dari
awal.
Berita Kelvin ditolak
oleh Hyuna kemarin sangat cepat menyebar luas di antero sekolah. Rina juga
begitu, dia selalu menanyakan padaku kenapa Hyuna bisa menolak Kelvin, dan aku
sungguh malas menjawab pertanyaannya.
“Jangan tanya gue dong
na, gue bukan Hyuna!”
“Kok lo sewot gitu sih
dis? Sumpah deh gue bisa tebak lo pasti nyembunyiin sesuatu, iya kan?”
Aku diam memandang mata
sahabatku itu, mencari sebuah rasa percaya, dengan cepatnya aku menubruk tubuh
Rina dan memeluknya menumpahkan segalnya.
“Gue... gue bohong sama
Kelvin na... gue bohong kalau Hyuna juga sama dia... gue yang ngasih harapan
palsu Hyuna ke Kelvin dan ngebuat Kelvin kayak gitu... ini semua salah gue...,”
aku masih terisak dipelukan Rina yang semakin erat.
“Adis...,” Rina
mengelus rambutku menenangkan, aku yakin Rina juga terkejut. “Bukan salah lo
sepenuhnya kok, gak papa, gue disini ada di pihak lo kalau sampe lo kejaring
masalah,”
Perlahan kulepas
pelukannya dan tersenyum. Ah begitu saja melegakan, hanya perlu berbagi beban
dengan sahabat yang bisa dipercaya saja ternyata.
Aku berlari dengan
tergesa-gesa ke arah rooftop sekolah siang ini. Tadi Beby baru saja
memberitahuku kalau Kelvin ingin berbicara denganku saat ini juga. Dari belakang
kulihat punggung gagah milik Kelvin membelakangiku.
“Lo bohong sama gue,”
Kelvin tiba-tiba berbalik ke arahku yang sontak membuatku memundurkan satu
langkah kebelakang.
“Maksud lo?”
“Lo bilang kalau Hyuna
suka sama gue, padahal dia suka sama Rama,”
Aku terdiam, dalam hati
aku mengumpat kesal, mengapa dia harus membahasnya.
“Gue, gue cuma mau
bantu lo aja kok,”
“Lo mau bantuin gue apa
kasihan sama gue? Mau lo apa sih dis? Gue kira lo baik-baik tapi ternyata lo
bohongin gue?
“Oh gue tau, lo suka
kan sama gue? Iya kan? Lalu karena lo suka sama gue lo jadi bohongin gue biar
nanti gue ditolak sama Hyuna dan berpaling ke elo gitu? Gila, hebat banget lo?”
Tanganku mengepal kuat,
entah kenapa rasanya aku ingin memuntahkan segalanya.
“Iya, gue suka sama lo,
gue bohongin lo, kenapa? Karena gue gak mau lo sakit hati. Berpaling ke gue? Hahaha
dari dulu gue ingin itu, tapi lo gak tau kan? Buat apa gue bohongin lo? Kalau gue
mau lo jadi milik gue kenapa gue gak bilang yang jujur aja? Gue bohong justru
buat bantu lo vin,”
“Gue gak butuh bantuan
lo lagi,” Kelvin kemudian mendekat ke arahku hingga jarak diantara kami tersisa
satu langkah lagi. “Dan jangan suka sama gue,”
DEGH!
Rasanya hati ini
seperti ditusuk oleh sebuah tombak yang sangat runcing hingga tembus
kebelakang. Sesakit ini kah? Kelvin melewatiku meninggalkan aku sendiri dibawa
teriknya cahaya matahari siang ini.
Air mata ini masih
mengalir deras sejak satu jam tadi. Tidak ada yang datang, hanya aku sendiri
disini. Aku menyukainya apakah salah? Kalau salah, bagian mana yang salah? Bisakah
untuk diperbaiki? Bukannya setiap orang mempunyai hak untuk menyukai dan
disukai? Lalu kenapa dia melarangku untuk menyukainya?
***
Hari ini adalah hari terakhir
UN bagi seluruh siswa-siswi SMA diseluruh Indonesia. Melupakan masalah hati
sejenak, aku bisa mengerjakan semua soal UN dengan lancar walaupun dalam bidang
tertentu ada sedikit kendala namun tak apa.
“Dis, lo gak mau ikut
coret-coret kan?” tanya Rina saat aku duduk di bangku taman sekolah sambil
melihat teman-teman yang lain mencoret-coret baju mereka dengan pilox
warna-warni.
“Gak lah, baju gue satu
doang ini,” jawabku tanpa menoleh ke arah Rina.
“Oh gitu, ya tanda
tangan gue aja lah ya,” Rina langsung mendatangani baju bagian samping kiriku
dengan spidol biru yang dibawanya.
Aku memandangnya
pura-pura kesal, namun juga melakukan hal yang sama pada baju Rina yang juga
masih putih bersih.
“Oke sip deh,
jalan-jalan yuk dis, gue mau lepas beban ujian, dan lo lepas rasa galau lo,”
“Gue galau darimana?”
“Dari tadi, lo
liatinnya ke arah Kelvin kan? Kelvin juga sadar akan pandangan lo tapi justru
dia pura-pura gak liat lo disini, gak gentle bangeeet,”
“Heh, apaan sih lo,”
Secara tiba-tiba Kelvin
lewat dihadapanku dan Rina. Ah tolong jangan sekarang, hati ini masih luka.
“Vin, si Adis pengin
bajunya lo tanda tanganin tuh,” ucap Nergi teman Kelvin.
Kelvin memberhentikan
langkahnya, menatapku lalu menatap tanganku yang sedang memegang spidol Rina
yang tadi.
“Kalau lo mau ttd ke
dia, lo aja,” jawab Kelvin dingin lalu berlalu mendahului teman-temannya.
Aku semakin menunduk. Lagi,
nyeri di hati ini semakin terasa lagi. Tidak bisakah dia melihatku lalu menarik
kembali kata-katanya waktu itu?
“Dis, lo gapapa kan?”
tanya Rina.
“Gak papa kok. Ohya maaf
banget ya Rin, hari ini gue gak bisa nemenin lo jalan-jalan. Maaf banget ya,”
aku langsung pergi setelah mengatakan itu.
Rina memandang
punggungku yang semakin menghilang di belokan koridor sekolah.
“Kenapa
juga lo harus suka sama cowok batu kayak dia?”
Aku berlari semakin
kencang. Air mata pun kembali mengalir tanpa aku sadari. Hingga tangan Dinar
tiba-tiba mencegatku, huh apa lagi sekarang? Aku segera menghapus air mataku
sebelum ketahuan olehnya.
“Lo nangis yaaa?”
ledeknya, aku menggeleng. “Emang dasar ya tu cowok pinter banget gak mau sama
lo,”
Aku menatap tajam pada
Dinar yang hanya menyeringai sinis.
“Dia pinter, lo yang
bodo. Lo bodo gara-gara masih aja ngerepin cowok gak punya hati kayak dia. “jangan
suka sama gue” lah emang dia pikir dia siapa ya gak?”
“Maksud lo apa sih nar
gue gak ngerti,”
“Maksud gue? Lo harus
move on Adis. Sedih gue liat musuh gue mewek kayak gini, kita gak deket banget
emang, tapi yaaaa yaaa begitulah,”
“Jangan sok perhatian
deh sama gue,”
“Yeee siapa juga yang
mau perhatian sama lo yang ada juga prihatin,”
“Ya udah lah,”
Aku memutar badan
hendak meninggalkan Dinar, sebelum dirinya menyodorkan sebuah kertas dari
belakang membuatku berhenti berjalan.
“Ini beasiswa di Bogor,
punya tante gue. Kalau lo mau kita bisa kesana bareng, lo juga bisa ajak Rina. Disana
ayo kita jadi temen dan mulai lembaran baru,” Dinar menyelipkan kertas tadi ke
tanganku dan tersenyum penuh arti sambil berlalu.
Beasiswa kuliah di
salah satu Insititut atau Universitas di Bogor. Menolaknya? Sangatlah tidak
mungkin, tapi rasanya aku harus memikirkan ini dahulu.
Puas sudah semalaman
suntuk aku memikirkan ajakan Dinar. Kuliah di Bogor, hidup baru dan
meninggalkan luka lama. Tidak terlalu buruk sepertinya. Aku melihat pendapat
Rina dan tentu saja kedua orang tua ku. Hingga akhirnya aku memutuskan ...
***
2 bulan kemudian.
Stasiun Gambir pagi ini
sangat padat oleh lautan penumpang. Aku, Rina dan Dinar sudah duduk disalah
satu gerbong kereta jurusan Jakarta-Bogor.
Ya, aku memutuskan
menerima tawaran Dinar, menjalani beberapa test dan akhirnya mendapatkan
beasiswa tersebut. Aku makin senang karena Rina juga mau ikut denganku
melanjutkan kuliah disana.
Kubuka buku diary
kecilku yang tebal tersebut. Diary ini sudah aku miliki sejak kelas 1 SMP. Banyak
sekali ceritaku didalamnya. Untuk yang terakhir aku ingin menuliskan sesuatu,
sebuah perasaanku untuk seseorang.
Aku
menyukaimu diam-diam, memperhatikanmu diam-diam. Menunggumu juga dalam
kesenderian Kau tak pernah menginginkanku, maka dengan rasa sakit yang tak akan
kuperlihatkan padamu aku ingin mengatakan sesuatu. Mulai saat ini aku tak ingin
mendengarmu, aku tak ingin melihatmu, dan aku tak lagi ingin menatapmu. Aku
menyerah? Boleh dibilang seperti itu. Sebab aku berjuangpun kau tidak akan tau.
Keberadaanku di matamu itu seperti angin, bisa dirasakan tapi diabaikan tak
bisa dilihat. Sekali lagi aku menyukaimu diam-diam dan aku juga meninggalkanmu
diam-diam.
-SELESAI-

Komentar
Posting Komentar