Keberadaan Seperti Angin [Cerpen]



  Keberadaan Seperti Angin  

Menyukaimu, apakah tak apa?
***
Dibawah teriknya sinar matahari pagi, aku berdiri dideretan teman sekelasku yang sedang berolahraga hari ini. Setelah sejenak mengdengarkan intruksi dari guru olahraga, kami semua akhirnya dibiarkan berolahraga bebas.
“Dis, main basket yuk,” ajak Rina saat aku asyik ngadem di bawah pohon.
“Hah? Eh ayuuuk,” aku pun segera bangkit dan menyusul Rina bermain basket di lapangan.
Mungkin memang hanya kami berdua yang bermain saat ini namun aku tebak pasti gerombolan Dinar cs. akan datang dan merebut bola kami.
Duk!
Huh! Benarkan kataku? Dilanda kesal aku segera berlari mengejar Dinar yang kemudian mengoper bolanya ke arah Gio. Tapi, hap! Aku dapat! Rina segera mengusir mereka dan kami berdua kembali bermain dengan tenang.
Aku yang mendrible bola dan dengan gesit menghindar dari Rina yang berusaha merubah posisi.
“Woi dis, ada Kelvin!” aku diam tiba-tiba, bola basket menggelinding entah kemana, segera ku lihat arah yang ditunjuk oleh Rina.
Degh!
Orang itu. Orang yang bagiku adalah cinta pandang pertama. Pertama kali ku melihatnya saat acara penerimaan siswa baru. Baru itu pula aku merasakan debaran yang tidak biasa.
“Masuk! Yes!” lamunanku mendadak buyar karena teriakan Rina.
Trick liciknya membuatku kalah satu skor darinya. Tapi tak apalah yang penting aku bisa melihat “dia”.
Bel istirahat berbunyi empat kali, aku dan Rina langsung menuju ke kantin karena tidak kuat menahan rasa lapar di perut masing-masing.
Lagi. Aku bertemu dengannya lagi. Entah harus senang atau apa yang pasti aku tersenyum.
“Weeh, ada Kelvin lagi dis, jangan-jangan jodoh kali ya?” bisik Rina.
“Heh ngaco lo,”
“Habisnya tiap hari kayaknya lo ketemu sama dia terus gitu,”
“Ye kan kita satu sekolah masa gak saling ketemu,”
“Oh iya juga sih ya,”
Kelvin. Orang pertama yang memikat pandangan bahkan hatiku. Aku yang menyukainya sejak kelas sepuluh sampai sekarang. Tapi kalian tau bagian yang menyedihkan dari cerita ini? Hahaha, dia tidak menyukaiku. Sama sekali tidak! Kenapa? Bagaimana aku tau? Aku ditolak olehnya? Ohooo, bukan. Tapi justru karena dia menyukai teman sekelasku, Hyuna.
Aku hanya bisa tinggal diam, tidak berani berbuat apa-apa. Ah sekarang memandangnya dari jauh saja aku sudah senang kok (bohong).
“Woi dis! Adis!”
“Eh apa?”
“Ngelamun mulu lo ah, buruan ke kelas udah bel, ganti baju aja belum,”
“Ohiya, kuy kuy lets go!”
***
Luka lagi. Hati ini membara lagi, rasanya aku ingin lari tapi tidak bisa. Pemandangan tadi tidak bisa aku hindari. Pagi tadi di depan kelas dengan riangnya Kelvin memuji-muji kecantikan Hyuna. Ah bagi orang lain itu mungkin biasa saja, tapi bagiku beda rasanya.
Hyuna memanglah primadona sekolah yang tubuhnya bak supermodel Indonesia. Wajahnya yang lucu dengan mata ‘kucing’ imutnya itu membuatnya tampak seakan-akan sempurna. Nyaliku menciut seketika, dibandingkan dengan aku yang seperti anak kecil dengan kucir kuda dan pipi bakpao kukus dan tubuh yang ah sudahlah... Hyuna? Aku mungkin hanya seonggok cacing untuk penampilan.
“Dis, ngelamunin apa lagi yawlaaaaaa?” Rina berteriak frustasi di sebelahku.
“Hehehe, sorry sorry yee,”
“Lo pasti lagi mikirin Kelvin kan?”
“Hah!? Gak kok na,”
“Dis, jodoh itu gak kemana, mau lo suka selama atau sebentar kalau yang namanya jodoh juga pasti ketemu, tapi kalau gak ya udahlah yaa,”
“Hahahaa, apaan sih lo na? Kok jadi mellow gitu?”
“Yang duluan mellow siapa coba?”
“Ehm... Gue sih,”
“Nah tuh, udahlah gak usah galau,”
Aku mengangguk, ucapan Rina tadi ada benarnya juga. Pelajaran bahasa Indonesia menyambut kami setelah bel selesai istirahat pertama berbunyi. Ulangan harian bergantian hari ini membuat murid perempuan dipindahkan ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas dan murid laki-laki tetap didalam kelas mengerjakan soal ulangan.
“Na, lo udah nemu novelnya?” tanyaku pada Rina saat melihat buku ditangan Rina.
“Udah nih, gue mau cari yang lebih tipis tapi gak ada jadi kepaksa ambil ini deh,”
“Yeelah segitu aje udah lumayan tipis na,”
Aku tertawa kecil lalu melangkah menuju rak buku Karangan Fiksi. Tanganku mulai menyapu deretan novel bahkan buku dongeng di sana. Namun itu terhenti sebentar setelah aku samar-samar mendengar sebuah suara.
“Lo sebenarnya suka gak sih sama Kelvin?”
“Iya nih, Kelvin kan gencar banget buat deketin lo na,”
“Gini ya, gue sama sekali gak ada perasaan apa-apa sama Kelvin. Dia ganteng sih, anak basket lagi, apa sih yang kurang kan? Tapi tetep aja gue gak ada rasa sama dia,”
“Lah kenapa? Kalau dia nembak lo iyain aja deh, setidaknya dia jadi pacar lo na,”
“Eh ogah ya gue, pokoknya gue gak mau sama dia. Rama lebih baik,”
“Aelah palah ngarepin Rama  lagi lo,”
Itu Hyuna dan dua dayang-dayangnya alias sahabat yang lebih mirip dayang seperti di drama kerajaan Korea. Aku mendengarnya dengan perasaan sedikit senang dan takut. Senang kalau kenyataan bahwa Hyuna tidak menyukai Kelvin tapi juga takut kalau nanti Kelvin tau dan bakalan sakit hati.
Aku terduduk dengan perasaan masih bertanya-tanya di ruang baca perpustakaan. Kumulai membukan lembaran novel yang kubawa untuk mengerjakan tugas dengan pikiran yang masih tertuju pada Kelvin.
***
Ddrrrttt drrttt drrrrtt.
Hpku bergetar didelam saku celanaku, dengan cepat aku bangun dari posisi rebahanku.
Kelvin Saptyan
Aku hampir saja menjatuhkan hpku dari tanganku. Hatiku berdetak lebih cepat dari biasanya. Perlahan ku buka pesannya dan mulai membaca, dengan perlahan juga.
Lo teman sekelasnya Hyuna kan?
Aku tahu mau kemana arah chat ini. Kecewa rasanya tapi tak apalah, segera saja aku membalasnya dengan cepat.
Menanyakan segala sesuatu tentang Hyuna, apa yang disukainya, apa yang dibencinya, apa saja kebiasaannya di kelas, siapa yang sedang dekat dengannya dan terakhir apakah dia juga menyukai Kelvin. Semua pertanyaan itu aku jawab dengan jujur kecuali yang terakhir.
Iya dia suka sama lo.
“Gak vin, itu bukan perasaan Hyuna, itu perasaan gue,” batinku berbicara.
Malam ini aku dibuat tidak bisa tidur oleh Kelvin. Ah Kelvin, kenapa harus lo ya?
Pagi telah menggantikan tugas sang malam. Pagi ini pula aku sudah berlari menyusuri jalan gang rumahku. Kalau telat sedikit bisa ketinggalan bus dan telat kesekolah. Untung saja aku tidak begitu hari ini.
“Rin, Rinaaaa!” aku melambaikan tanganku ke arah Rina yang hendak naik ke tangga sekolah.
“Weeeess, tumben banget mbak mau manggil saya,” sindir Rina saat sudah berjalan berdua di koridor lantai satu sekolah tercinta ini.
“Gak papa, manggil aja, gak boleh?”
“Yeee bolehlah. Btw kok muka lo kayak seneng gitu ya?”
“Kok anda kepo ya?”
“Aiiissh, awas lo yeee!”
Aku berlari menghindar dari kejaran amukan Rina. Menaiki tangga lantai dua dan akhirnya sampai di lantai tiga dimana para senior SMA bermukim.
“Oke oke, stop na, gue bakal cerita sesuatu sama lo,”
“Bohong!”
“Eh beneran ini,”
“Huft, iya deh apaan?”
Rina mulai mendekat padaku.
“Nanti aja deh ya,”
“Lo! Bener-bener ya,”
Aku cekikikan sendiri sembari memasuki kelasku sedangkan Rina mengikuti di belakang dengan melafalkan sumpah serapah yang panjangnya kayak gerbong kereta.
“Hah yang bener Kelvin chat lo?”
“Husst, jangan keras-keras na,”
“Hehehe iyee maaf. Tapi apa lo gak papa dia nanyain cewek lain ke elo?”
“Gak papalah, emang gue siapanya dia mau ngelarang biar gak usah omongin cewek lain?”
“Iya juga sih ya, em, kantin aja yuk,”
Rina menggandengan tanganku dengan riang menuju kantin. Aku tersenyum saja dibuatnya. Saat berpaspasan di belokan tangga ada Kelvin disana, aku tersenyum padanya. Tapi Kelvin hanya memandangku sekilas dengan tatapan dingin nan tajam cirikhasnya.
Raut wajahku seketika murung, memikirkan Kelvin (lagi). Bagaimana bisa yang semalam rasanya dekat tapi saat tadi seperti orang yang tidak saling kenal?
“Hayoooo ngelamun lagi lo,” ucap Rina yang kemudian duduk didepanku dengan dua gelas es capuchino.
“Siapa yang ngelamun yeee,”
“Oh gue kira ngelamunin pujaan hati,”
“Issh apaan sih lo,”
“Eh ya dis, gue baru sadar, kalau misalnya Kelvin sering chat buat nanya-nanyain  Hyuna lo bisa aja serempet dia,”
“Hah serempet? Kalau dia luka gimana?”
“Yah pe’ak! Serempet maksudnya ambil kesempatan. Lo bisa sok-sok kasih perhatian gitu, nanyain dia lagi apa atau gimana gitu,”
“Iya juga ya,”
“Iyalah, dan kalau nantinya Kelvin lebih nyaman sama lo bukannya lebih bagus?”
“Iya sih tapi Kelvin kan sukanya sama Hyuna bukan sama gue. Gue yang suka sama dia dari kelas satu aja dianggurin mulu, gak dianggap,”
“Nah iya makanyaaaa Adisty ku yang cantik, lo harus manfaatin kesempatan ini dengan sebaik-baiknya,”
“Harus banget gitu gue?”
“Ya dong, harus!”
Kuputar kedua bola mataku dan mendesah berat.
TengTengTeng!!! Bel masuk berbunyi tiga kali, kami berdua pun akhirnya memutuskan kembali ke kelas untuk memulai pelajaran hari ini.
Sampainya di rumah aku segera melaksanakan rencana itu. Awalnya aku hanya menanyakan kelanjutan hubungan Kelvin dan Hyuna hingga lama-lama aku kecanduan dan ingin selalu memperpanjang obrolan kami.
Kalau seperti ini, apakah tak apa?
Besoknya sama seperti itu, tapi rasa ini aneh. Kelvin seakaan tidak mengenalku. Dia selalu mengabaikan panggilanku, tatapanku dan senyumanku walaupun dia menyadarinya. Tapi saat sudah dalam obrolan kami berdua nampak seperti dua orang yang sedang menjalankan misi. Terus seperti itu sampai suatu hari dimana semua ini bakalan berakhir.
Gue rasa udah cukup buat selama ini dis
Maksud lo vin?
Gue mau nembak Hyuna besok
....
Aku tidak bisa membalas apapun untuk sementara, mataku, otakku hingga perasaanku masih mencerna kalimat yang barusan ku baca.
Oh, bagus dong kalau gitu
Iya, thnks udah bantuin gue
Sama-sama
Pupus sudah semuanya. Aku memang bukan apa-apa buat Kelvin. Mungkin saat ini lebih baik dari dulu karena masih mungkin kalau Kelvin menganggap aku teman. Itu saja cukup untuk saat ini.
“Sabar ya dis, maaf juga karena saran gue palah buat lo tambah sakit hati. Masih banyak cowok selain dia kok dis, lupain aja ya?”
Nasehat Rina padaku saat aku menceritakan semuanya padanya siang itu di sudut perpustakaan.
“Gak semudah itu na, lo pikir sekali gue niat langsung lupa? Gak naaa,”
“Iya dis gue tau, tau banget. Tapi mau gimana lagi? Mau lakuin apa lagi?”
“Gak tau, gue gak tau sumpaaah na gue harus gimana?”
Aku menelungkupkan wajahku dengan frustasi. Rina menatapku sendu, ikut sedih. Melupakan? Menghapus? Ah tidak semudah itu benar.
***
Kulihat dua dayang pribadi Hyuna sudah dengan semangatnya memaksa Hyuna agar ikut ke rooftop sekolah. Hyuna tak bergeming dan palah menatap mereka dengan acuh. Namun dengan pemaksaan yang lebih sedikit keras akhirnya Hyuna mau diajak kesana.
Tanpa sadar langkah kakiku mengikuti ketiganya. Tap! Tap! Tap! Langkahku sengaja kubuat pelan karena tidak mau ketahuan kalau aku diam-diam mengikuti.
Sudah sampai, Hyuna berdiri diam didepan Kelvin yang tampak gugup. Aku yang melihat dari samping dapat menemukan sebuah bucket bunga yang tersembunyi dibalik punggung Kelvin.
Sedikit percakapan pengantar dari mereka tidak aku dengarkan, hingga masalah intinya.
“Lo mau jadi pacar gue?” ucap Kelvin dengan penuh harap.
“Sorry vin, gue bener-bener minta maaf, tapi selama ini gue gak ada perasaaan apa-apa sama lo,” jawab Hyuna dengan ekspresi kurang mengenakkan.
“Maksud lo?”
“Gue punya orang lain yang gue suka,”
Buuum! Bucket bunga tersebut jatuh dari tangan Kelvin.
Aku tidak sanggup melihat kejadian selanjutnya dan memilih menghilang dari persembunyian. Wajah tadi, entah kenapa rasanya sakit sekali aku melihatnya. Ingin rasanya aku mengatakan bahwa ‘masih ada aku disini, tidak apa-apa’ tapi apalah dayaku ini. Hati ini semakin berkecamuk tidak jelas, aku rasa ini salahku, salahku tidak mengatakan yang sejujurnya dari awal.
Berita Kelvin ditolak oleh Hyuna kemarin sangat cepat menyebar luas di antero sekolah. Rina juga begitu, dia selalu menanyakan padaku kenapa Hyuna bisa menolak Kelvin, dan aku sungguh malas menjawab pertanyaannya.
“Jangan tanya gue dong na, gue bukan Hyuna!”
“Kok lo sewot gitu sih dis? Sumpah deh gue bisa tebak lo pasti nyembunyiin sesuatu, iya kan?”
Aku diam memandang mata sahabatku itu, mencari sebuah rasa percaya, dengan cepatnya aku menubruk tubuh Rina dan memeluknya menumpahkan segalnya.
“Gue... gue bohong sama Kelvin na... gue bohong kalau Hyuna juga sama dia... gue yang ngasih harapan palsu Hyuna ke Kelvin dan ngebuat Kelvin kayak gitu... ini semua salah gue...,” aku masih terisak dipelukan Rina yang semakin erat.
“Adis...,” Rina mengelus rambutku menenangkan, aku yakin Rina juga terkejut. “Bukan salah lo sepenuhnya kok, gak papa, gue disini ada di pihak lo kalau sampe lo kejaring masalah,”
Perlahan kulepas pelukannya dan tersenyum. Ah begitu saja melegakan, hanya perlu berbagi beban dengan sahabat yang bisa dipercaya saja ternyata.
Aku berlari dengan tergesa-gesa ke arah rooftop sekolah siang ini. Tadi Beby baru saja memberitahuku kalau Kelvin ingin berbicara denganku saat ini juga. Dari belakang kulihat punggung gagah milik Kelvin membelakangiku.
“Lo bohong sama gue,” Kelvin tiba-tiba berbalik ke arahku yang sontak membuatku memundurkan satu langkah kebelakang.
“Maksud lo?”
“Lo bilang kalau Hyuna suka sama gue, padahal dia suka sama Rama,”
Aku terdiam, dalam hati aku mengumpat kesal, mengapa dia harus membahasnya.
“Gue, gue cuma mau bantu lo aja kok,”
“Lo mau bantuin gue apa kasihan sama gue? Mau lo apa sih dis? Gue kira lo baik-baik tapi ternyata lo bohongin gue?
“Oh gue tau, lo suka kan sama gue? Iya kan? Lalu karena lo suka sama gue lo jadi bohongin gue biar nanti gue ditolak sama Hyuna dan berpaling ke elo gitu? Gila, hebat banget lo?”
Tanganku mengepal kuat, entah kenapa rasanya aku ingin memuntahkan segalanya.
“Iya, gue suka sama lo, gue bohongin lo, kenapa? Karena gue gak mau lo sakit hati. Berpaling ke gue? Hahaha dari dulu gue ingin itu, tapi lo gak tau kan? Buat apa gue bohongin lo? Kalau gue mau lo jadi milik gue kenapa gue gak bilang yang jujur aja? Gue bohong justru buat bantu lo vin,”
“Gue gak butuh bantuan lo lagi,” Kelvin kemudian mendekat ke arahku hingga jarak diantara kami tersisa satu langkah lagi. “Dan jangan suka sama gue,”
DEGH!
Rasanya hati ini seperti ditusuk oleh sebuah tombak yang sangat runcing hingga tembus kebelakang. Sesakit ini kah? Kelvin melewatiku meninggalkan aku sendiri dibawa teriknya cahaya matahari siang ini.
Air mata ini masih mengalir deras sejak satu jam tadi. Tidak ada yang datang, hanya aku sendiri disini. Aku menyukainya apakah salah? Kalau salah, bagian mana yang salah? Bisakah untuk diperbaiki? Bukannya setiap orang mempunyai hak untuk menyukai dan disukai? Lalu kenapa dia melarangku untuk menyukainya?
***
Hari ini adalah hari terakhir UN bagi seluruh siswa-siswi SMA diseluruh Indonesia. Melupakan masalah hati sejenak, aku bisa mengerjakan semua soal UN dengan lancar walaupun dalam bidang tertentu ada sedikit kendala namun tak apa.
“Dis, lo gak mau ikut coret-coret kan?” tanya Rina saat aku duduk di bangku taman sekolah sambil melihat teman-teman yang lain mencoret-coret baju mereka dengan pilox warna-warni.
“Gak lah, baju gue satu doang ini,” jawabku tanpa menoleh ke arah Rina.
“Oh gitu, ya tanda tangan gue aja lah ya,” Rina langsung mendatangani baju bagian samping kiriku dengan spidol biru yang dibawanya.
Aku memandangnya pura-pura kesal, namun juga melakukan hal yang sama pada baju Rina yang juga masih putih bersih.
“Oke sip deh, jalan-jalan yuk dis, gue mau lepas beban ujian, dan lo lepas rasa galau lo,”
“Gue galau darimana?”
“Dari tadi, lo liatinnya ke arah Kelvin kan? Kelvin juga sadar akan pandangan lo tapi justru dia pura-pura gak liat lo disini, gak gentle bangeeet,”
“Heh, apaan sih lo,”
Secara tiba-tiba Kelvin lewat dihadapanku dan Rina. Ah tolong jangan sekarang, hati ini masih luka.
“Vin, si Adis pengin bajunya lo tanda tanganin tuh,” ucap Nergi teman Kelvin.
Kelvin memberhentikan langkahnya, menatapku lalu menatap tanganku yang sedang memegang spidol Rina yang tadi.
“Kalau lo mau ttd ke dia, lo aja,” jawab Kelvin dingin lalu berlalu mendahului teman-temannya.
Aku semakin menunduk. Lagi, nyeri di hati ini semakin terasa lagi. Tidak bisakah dia melihatku lalu menarik kembali kata-katanya waktu itu?
“Dis, lo gapapa kan?” tanya Rina.
“Gak papa kok. Ohya maaf banget ya Rin, hari ini gue gak bisa nemenin lo jalan-jalan. Maaf banget ya,” aku langsung pergi setelah mengatakan itu.
Rina memandang punggungku yang semakin menghilang di belokan koridor sekolah.
“Kenapa juga lo harus suka sama cowok batu kayak dia?”
Aku berlari semakin kencang. Air mata pun kembali mengalir tanpa aku sadari. Hingga tangan Dinar tiba-tiba mencegatku, huh apa lagi sekarang? Aku segera menghapus air mataku sebelum ketahuan olehnya.
“Lo nangis yaaa?” ledeknya, aku menggeleng. “Emang dasar ya tu cowok pinter banget gak mau sama lo,”
Aku menatap tajam pada Dinar yang hanya menyeringai sinis.
“Dia pinter, lo yang bodo. Lo bodo gara-gara masih aja ngerepin cowok gak punya hati kayak dia. “jangan suka sama gue” lah emang dia pikir dia siapa ya gak?”
“Maksud lo apa sih nar gue gak ngerti,”
“Maksud gue? Lo harus move on Adis. Sedih gue liat musuh gue mewek kayak gini, kita gak deket banget emang, tapi yaaaa yaaa begitulah,”
“Jangan sok perhatian deh sama gue,”
“Yeee siapa juga yang mau perhatian sama lo yang ada juga prihatin,”
“Ya udah lah,”
Aku memutar badan hendak meninggalkan Dinar, sebelum dirinya menyodorkan sebuah kertas dari belakang membuatku berhenti berjalan.
“Ini beasiswa di Bogor, punya tante gue. Kalau lo mau kita bisa kesana bareng, lo juga bisa ajak Rina. Disana ayo kita jadi temen dan mulai lembaran baru,” Dinar menyelipkan kertas tadi ke tanganku dan tersenyum penuh arti sambil berlalu.
Beasiswa kuliah di salah satu Insititut atau Universitas di Bogor. Menolaknya? Sangatlah tidak mungkin, tapi rasanya aku harus memikirkan ini dahulu.
Puas sudah semalaman suntuk aku memikirkan ajakan Dinar. Kuliah di Bogor, hidup baru dan meninggalkan luka lama. Tidak terlalu buruk sepertinya. Aku melihat pendapat Rina dan tentu saja kedua orang tua ku. Hingga akhirnya aku memutuskan ...
***
2 bulan kemudian.
Stasiun Gambir pagi ini sangat padat oleh lautan penumpang. Aku, Rina dan Dinar sudah duduk disalah satu gerbong kereta jurusan Jakarta-Bogor.
Ya, aku memutuskan menerima tawaran Dinar, menjalani beberapa test dan akhirnya mendapatkan beasiswa tersebut. Aku makin senang karena Rina juga mau ikut denganku melanjutkan kuliah disana.
Kubuka buku diary kecilku yang tebal tersebut. Diary ini sudah aku miliki sejak kelas 1 SMP. Banyak sekali ceritaku didalamnya. Untuk yang terakhir aku ingin menuliskan sesuatu, sebuah perasaanku untuk seseorang.
Aku menyukaimu diam-diam, memperhatikanmu diam-diam. Menunggumu juga dalam kesenderian Kau tak pernah menginginkanku, maka dengan rasa sakit yang tak akan kuperlihatkan padamu aku ingin mengatakan sesuatu. Mulai saat ini aku tak ingin mendengarmu, aku tak ingin melihatmu, dan aku tak lagi ingin menatapmu. Aku menyerah? Boleh dibilang seperti itu. Sebab aku berjuangpun kau tidak akan tau. Keberadaanku di matamu itu seperti angin, bisa dirasakan tapi diabaikan tak bisa dilihat. Sekali lagi aku menyukaimu diam-diam dan aku juga meninggalkanmu diam-diam.

                                         -SELESAI-

Komentar

Postingan Populer